Ada beberapa orang yang menjadi tokoh inspirasi saya, orang
tua saya dan seorang penulis novel. Mama, seperti sesuatu yang sulit di
definisikan, karena bagaimana pun kita mendefinisikannya beliau selalu lebih
mulia dari apa yang kita definisikan. Beliau mempunyai ketegaran hati yang
sangat luar biasa, bagaimanapun saya membuat sebuah kegagalan, mama akan selalu
mengajarkan bahwa hidup harus penuh dengan perjuangan dan ketegaran.
Seperti apapun penilaian masyarakat tentang dirinya
dan keluarganya, mama akan selalu menjadi wanita yang menjadi pelindung
keluarganya. Saya percaya bahwa manusia diciptakan Allah SWT dari tanah, tetapi
mungkin mama lebih dari itu. Walaupun organ tubuhnya sama seperti manusia lain,
tetapi saya kira mama mempunyai hati yang lebih besar, karena kasih saying dan
cintanya melebihi cinta manusia manapun. Mama adalah perantara kasih sayang
Allah kepada hambaNya.
Bapa, sosok perkasa yang tidak pernah kenal lelah.
Beliau tidak pernah menyerah untuk mendapatkan nafkah yang halal untuk
anak-anaknya, walau perannya seringkali hanya dipandang sebagai pemenuh
kebutuhan saja, tapi tidakkah kita berpikir bahwa karena kerja kerasnya kita
bisa bertahan hidup sampai sekarang. Karena dengan segala keikhlasan beliau
mencari rejeki untuk anak- anaknya kita bisa menjadi manusia seperti sekarang
ini. Bapa akan selalu jadi pria tergagah yang pernah ada.
Yang terakhir adalah seorang penulis novel, Darwis
Tere Liye. Menurut saya, beliau adalah penulis novel yang sederhana. Jika
penulis lain memilih Sydney, korea, mesir, atau bahkan negara-negara Eropa yang
menjadi latar cerita mereka, berbeda dengan Darwis Tere Liye yang lebih memilih
Aceh, Pontianak sebagai latarnya. Selain itu, cerita dan tokoh yang digambarkan
selalu tokoh-tokoh sederhana seperti Delisa dalam novel Hafalan Sholat Delisa.
Dimana Delisa hanya seorang anak kecil yang menghafal bacaan sholatnya dan
ingin mendapatkan hadiah kalung dari ibunya tetapi dibalik kesederhanaan cerita
tersebut Delisa membangun kekhusyuan dalam bacaan Sholatnya walau ombak lautan
mulai menggulung desanya, Tsunami tidak mengganggu kekhusyuan sholatnya. Ada
banyak sekali tema yang kadang dianggap sebagai tema yang biasa dalam kehidupan
sehari-hari yang sebenarnya kita pun tidak memikirkan apa hikmah yang terkandung
dalam tema tersebut.
Ada kutipan dari novel beliau yang saya ingat “kita
tidak perlu membuktikan pada siapapun bahwa kita itu baik. Buat apa? Sama
sekali tidak perlu. Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain.
Karena toh, kalaupun orang lain menganggap kita demikian, pada akhirnya tetap
kita sendiri yang tahu persis apakah kita memang sebaik itu”. Dari kutipan
tersebut saya menilai bahwa ketulusan itu dibangun dari diri sendiri.
Dari ketiga tokoh di atas, mereka adalah tokoh yang
mengajarkan saya banyak hal. Bahwa ketika kegagalan muncul saya hanya mempunyai
satu pilihan yaitu ketegaran, dan teruskan perjuangan ketika orang lain menilai
engkau hanya sebagai pemenuh kebutuhan serta bersyukur pada hal-hal sederhana
yang kita miliki dan sering kita jumpai.